Selasa, 08 November 2016

Mendaras Kiai Sahal Mahfudz

06.26 Posted by Kamar Belakang No comments
Oleh: Ma'mum Bingung

Merupakan pengalaman pertama bagi saya, pun bagi panitia, katanya. Ketika Keluarga Matholi’ul Falah (KMF) Yogyakarta mengadakan Pesantren Pemikiran Kiai Sahal sebagai salah satu dari serangkaian kegiatan memperingati 1000 hari Kiai Sahal. Kegiatan itu diadakan selama 2 hari 27-28 Septembert 2016 di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an al-Muhsin, Krapyak Wetan, Yogyakarta. Untuk bisa mengikuti Pesantren Pemikiran Kiai Sahal, panitia hanya menyediakan kursi bagi 30 kuota peserta. Para calon peserta, awalnya, ditantang untuk membuat essay tentang Kiai Sahal, sebagai syarat lulus seleksi. Dan, alhamdulillah, saya termasuk dari tiga puluh peserta yang lolos dan berhak mengikuti Pesantren Pemikiran tersebut.
Kesempatan yang sangat langkah dan terbatas tersebut, melejitkan serta menjadi semangat tersendiri bagi saya dan para peserta lainnya, untuk mengetahui lalu menindak-lanjuti segala materi yang diberikan pada Pesantren Pemikiran tersebut. Wabilkhusus ihwal Kiai Sahal dan Fiqih Sosialnya.
Dalam Perhelatan tersebut, beberapa nilai dasar perjuangan Kiai Sahal diulas luas lalu ditularkan kepada kita, para peserta. Nilai-nilai yang begitu luhur menjadi aksen pembicaraan yang tidak pernah selesai dalam forum tersebut. Bayangkan saja, tiap-tiap pemateri—ada lima pemateri—semuanya dengan lanyah menyinggung pengalaman pribadi mereka tatkala melihat dan hidup berdampingan dengan Kiai Sahal. Misal Gus Rozin, yang dalam acara tersebut mempresentasikan Biografi Kiai Sahal. Berulang kali beliau mendaras hikmah atas perilaku Mbah Sahal kepada dirinya pun kepada orang lain. Sampai ada sebuah cerita, ketika itu Gus Rozin masih mondok di Kewagean, Kediri, pada saat krisis moneter melanda Indonesia, bahan-bahan pokok mengalami kenaikan harga yang tidak sedikit. Kondisi tersebut mulai membingungkan Gus Rozin, yang pada saat sebelum krismon, disangoni Mbah Sahal sekitar lima puluh ribu di setiap bulannya, jumlah uang itu, dirasa Gus Rozin, belum cukup untuk mencukupi kehidupan saat ketika krismon. Alhasil, Gus Rozin mengajukan “proposal kenaikan sangu” pada Mbah Sahal. Tapi apa yang didapat oleh Gus Rozin, setelah proposal dibuat sedemikian rupa, oleh Mbah Sahal, proposal itu ditolak mentah-mentah tapi dengan syarat. Syaratnya, jikalau Gus Rozin mau dan mampu untuk membuka usaha. Dan iya, Gus Rozin mau, Mbah Sahal pun segan menambah uang sangu. Akhirnya, Gus Rozin memilih untuk usaha kambing. Hal yang bisa diambil dari cerita tersebut, adalah dimana Mbah Sahal mampu memberikan ruang pada orang, untuk mereka berproses. Mbah Sahal sendiri pun, tega melihat orang gagal. Sebab itu diartikan sebagai dinamika hidup. Perjalanan hidup dan proses hidup menuju kesuksesan.
Selain tutur cerita ihwal pengalaman hidup Mbah Sahal yang superior, mulai dari kealiman, kekharismatikan, konsistensi, ketegasan, kesederhanaan, keteguhan sikap, demokratis dalam ber-bahtsul masa’il dalam bermasyarakat, tawassuth, ada nilai penting lain yang ditorehkan Mbah Sahal selain pengalaman pribadinya itu—yang dewasa ini diramu, diperas hingga menjadi visi dan misi Perguruan Mathol’ul Falah, yaitu “Menjadi Insan Sholih Akrom”.
Nilai penting lain yang juga menjadi taglines Mbah Sahal adalah “Nuansa Fiqih Sosial”.
Mungkin anda sekalian telah mengetahui, pernah membaca bahkan mungkin mempunyai buku Nuansa Fiqih Sosial-nya Mbah Sahal, yang terbit tahun 1994 oleh Penerbit Lkis, tapi perlu diketahui, bahwasannya, taglines Fiqih Sosial itu bukan Mbah Sahal sendiri yang membuatnya. Melainkan pihak penyunting buku tersebut. Mbah Sahal tidak pernah menyebut konsep Fiqihnya itu sebagai Fiqih Sosial. Tidak pernah. Sehingga komentar awal Mbah Sahal tatkala mendengar adanya sebutan “Fiqih Sosial”, beliau semacam kurang menerima. “nek iki dijenengi Fiqih Sosial, berarti Fiqih-fiqih sakdurunge a-sosial?” (kalau ini dinamakan Fiqih Sosial, berarti Fiqih sebelum munculnya ini Fiqih a-sosial dong?). Tapi lambat laun, term tersebut diterima baik oleh banyak kalangan, termasuk Mbah Sahal sendiri. Demikian juga Nuansa Fiqih Sosial ala Mbah Sahal ini pun telah berjalan, praktik atau bukti nyatanya telah ada, meskipun hanya dalam skala Kajen, lingkungan sekitar Mbah Sahal sendiri.
Tapi bukan tidak mungkin, kata Ibu Umdatul Baroroh, seorang pemateri, yang mengampu materi Metodologi Fiqih Sosial, jika Fiqih Sosial nanti dalam perkembangan dan pengembangannya, akan menjadi Fiqih Indonesia atau Fiqih Nusantara. Dosen IPMAFA sekaligus tim dari FISI (Fiqih Social Institute) dalam hal tersebut, lewat penyampaiannya, beliau mencoba mendialogkan masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural dengan Fiqih Sosial. Sebab permasalahan baru yang dihadapi oleh Fiqih Sosial ala Mbah Sahal ini adalah masyarakat Indonesia sendiri. Bagaimana Fiqih Sosial tidak menjadi dogma-teologis atau hukum positif negara. Lebih dari itu, Fiqih Sosial menjadi Etika Sosial Global yang sanggup mentaati ajaran Allah (ibadatullah/Kesalehan Ritual) juga sanggup mentaati serta menjaga kelestarian alam semesta (imaratul ardh/Kesalehan Sosial).
Secara Biografi, Epistimologi dan Metodologi dalam Fiqih Sosial telah selesai. Dalam fase selanjutnya adalah fase bina sosial dalam wujud keaktifannya di organisasi NU, MUI, RMI, dst.,dsb., juga di  institusi-institusi pendidikan, beliau mengajar di sana. Serta  memantau perkembangan bina Fiqih Sosialnya yang telah berjalan. Sebelum akhirnya, saat ini, oleh FISI, Fiqih Sosial mulai diperluas jangkauan pembahasannya, pembicaraannya, konteksnya.
Ala kulli hal, sebagai ikhtitam relasi antara NU dan Kiai Sahal, Abang Savic Ali, menegaskan jika kemajuan NU saat ini, tidak terlepas dari pasangan emas Kiai Sahal (Rais Aam) dan Gus Dur (Tanfidziyyah) pada saat itu (92-99). Duet emas tersebut membawa NU menjadi lebih progresif dan dilirik oleh negara-negara di Timur Tengah. NU menjadi lembaga percontohan dunia dalam ihwal peacebuilding, yang di  Timur Tengah sana, yang namanya konflik itu tak ada habisnya. Hingga dinamika dalam NU pun terjadi, bahkan dalam kacamata banyak orang dalam melihat NU, seolah mereka melihatnya sebagai Partai Politik. Semoga kelak, pasca Mbah Sahal, NU tetap konsisten memperteguh wawasan, konsisten memperkokoh barisan, serta peka terhadap problematika sosial-keagamaan. Amin. Wallahu A’lam